BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada saat ini ilmu terapan bimbingan konseling terus berkembang dan memasuki di berbagai ruang lingkup, terutama sekali dalam dunia pendidikan. Pendidikan pada umumnya dikenal sebagai kegiatan belajar dan mengajar yang bertujuan mengembangkan potensi dan menambah wawasan generasi bangsa. Untuk mewujudkan tujuan tersebut tidak cukup hanya dengan mengajarkan teori mata pelajaran saja, tentu harus adanya pengetahuan terhadap tingkah laku atau pengetahuan tentang psikologi, agar terciptanya proses belajar dan mengajar dengan maksimal dan baik.
Besarnya pengaruh bimbingan konseling terhadap pendidikan yang menjadi penarik perhatian kami untuk menelusuri dan menulis makalah ini. Sebelum kita menelusuri ilmu konseling pendidikan lebih dalam tentunya kita harus lebih dulu mengetahui ruang lingkup yang menjadi dasar untuk pembahasan mendalam selanjutnya. Ruang lingkup dalam konseling pendidikan yang berupa pengertian konseling pendidikan, sejarah, manfaat serta dalil tentang konseling pendidikan.
B. Rumusan Masalah
a. Apa pengertian konseling pendidikan?
b. Bagaimana sejarah konseling pendidikan?
c. Bagaimana obyek/cakupan konseling pendidikan dan metode konseling pendidikan?
d. Bagaimana manfaat konseling pendidikan?
e. Bagaimana dalil tentang konseling pendidikan?
C. Tujuan makalah
a. Agar mengetahui pengertian konseling pendidikan.
b. Agar mengetahui sejarah konseling pendidikan.
c. Agar mengetahui obyek/cakupan konseling pendidikan dan metode konseling pendidikan.
d. Agar mengetahui manfaat konseling pendidikan.
e. Agar mengetahui dalil tentang konseling pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Konseling Pendidikan
1. Definisi Konseling
Konseling merupakan terjemahan dari counseling, yaitu bagian dari bimbingan, baik sebagai pelayanan maupun sebagai teknik.[1] Konseling adalah semua bentuk hubungan antara dua orang, dimana yang seorang, yaitu klien dibantu untuk lebih mampu menyesuaikan diri secara efektif terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya. Suasana hubungan konseling meliputi penggunaan wawancara untuk memperoleh dan memberikan berbagai informasi, melatih atau mengajar, meningkatkan kematangan, memberikan bantuan melalui pengambilan keputusan dan usaha-usaha penyembuhan (terapi).[2] Konseling artinya konselor memberikan arahan, bantuan, nasehat, solusi kepada konseli secara langsung dengan menggunakan layananan-layanan yang terdapat dalam konseling guna menyelesaikan masalah pada konseli.
2. Definisi Pendidikan
Pendidikan berasal dari kata “didik”, lalu kata ini mendapat awalan me sehingga menjadi “mendidik”, artinya memeliara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntunan, dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran sedangkan pengertian “pendidikan” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.
Dalam bahasa Inggris, education (pendidikan) berasal dari kata educate (mendidik) artinya memberi peningkatan (to elicit, to give rise to), dan mengembangkan (to evolve, to develop). Dalam pengertian yang sempit, education atau pendidikan berarti perbuatan atau proses pembuatan untuk memperoleh pengetahuan. Pendidikan dapat diartikan sebagai sebuah proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan.[3]
3. Definisi Konseling Pendidikan
Konseling juga hampir sama dengan psikologi dimana sama-sama mempelajari ilmu jiwa seorang individu dengan teori yang sama hanya saja yang membedakan antara keduanya terletak pada peranan dari psikologi dan konseling dan keduanya juga memiliki kelbihan dan kekurangannya masing-masing. Jadi konseling pendidikan maupun psikologi pendidikan sama-sama merupakan sebuah subdisiplin psikologi terapan (applicable) dimana psikologi maupun konseling pendidikan adalah sebuah ilmu yang berkaitan dengan teori dan masalah kependidikan yang berguna dalam hal-hal sebagai berikut.[4]
1. Penerapan prinsip-prinsip belajar dalam kelas
2. Pengembangan dan pembaruan kurikulum
3. Ujian dan evaluasi bakat dan kemampuan
4. Sosialisasi proses-proses dan interaksi proses-proses tersebut dengan pendayagunaan ranah kognitif
5. Penyelenggaraan pendidikan keguruan.
Konseling pendidikan adalah sebuah pengetahuan berdasarkan riset ilmu jiwa (psychology) yang menyediakan serangkaian sumber-sumber untuk membantu anda melaksanakan tugas sebagai seorang guru dalam proses belajar-mengajar secara lebih efektif. Tekanan definisi ini secara lahiriah hanya berkisar proses interaksi antarguru-siswa dalam kelas.
Sementara itu konseling pendidikan cenderung mirip dengan ilmu terapan. Dimana konseling pendidikan adalah sebuah bidang studi yang berhubungan dengan penerapan pengetahuan tentang perilaku manusia untuk usaha-usaha kependidikan. Adapun ruang lingkupnya, meliputi:[5]
1. Situasi atau tempat yang berhubungan dengan mengajar dan belajar (context of teaching and learning);
2. Tahapan-tahapan dalam mengajar dan belajar (process of teaching and learning); dan
3. Hasil-hasil yang dicapai oleh proses mengajar dan belajar (outcomes of teaching and learning).
B. Sejarah Konseling Pendidikan
Sejarah khusus yang mengungkapkan secara cermat dan luas tentang konseling pendidikan, hingga kini sesungguhnya masih perlu dicari. Hal ini terbukti karena kebanyakan karya tulis yang mengungkapkan “Riwayat hidup” konseling pendidikan masih sangat langka. Karya tulis yang membahas riwayat konseling yang ada sekarang pada umumnya membahas berbagai konseling yang dicampur aduk menjadi satu, sehingga menyulitkan idntifikasi terhadap jenis psikologi tertentu yang ingin kita ketahui secara spesifik.
Kenyataan yang tak dapat dipungkiri bahwa penggunaan psikologi dalam dunia pendidikan sudah berlangsung sejak zaman dahulu. Meskipun Psikologi pendidikan sendiri pada masa awal perkembangannya, pemanfaatannya belum dikenal orang. Namun, seiring dengan perkembangan sains dan teknologi, akhirnya lahir dan berkembanglah secara resmi sebuah cabang khusus psikologi yang disebut psikologi pendidikan. Pada umumnya para ahli memandang bahwa Johan Friedrich Herbart adalah bapak psikologi pendidikan yang konon menurut sebagian ahli masih merupakan disiplin sempalan psikologi lainnya itu.
Selanjutnya psikologi pendidikan lebih pesat berkembang di Amerika Serikat pada abad xx, meskipun tanah kelahirannya sendiri di Eropa. Kemudian, dari negara adidaya tersebut menyebar keseluruh benua hingga sampai ke Indonesia. Meskipun perkembangan psikologi pendidikan di Eropa dianggap tidak seberapa, kenyataannya psikologi tersebut tidak lenyap atau tergeser oleh perkembangan psikologi pengajaran dan didaksologi seperti yang telah penyusun singgung dimuka. Salah satu bukti masih dipakai dan dikembangkannya psikologi tersebut di Eropa, khususnya di Inggris adalah masih diterbitkannya sebuah jurnal internasional yang berjudul British Journal of Educational Pychology.
Sekarang, semakin dewasa usia konseling pendidikan, semakin banyak pakar konseling dan pendidikan yang berminat mengembangkannya. Hal ini terbukti dengan semakin banyaknya fakultas konseling dan fakultas pendidikan di universitas-universitas terkenal di dunia yang membuka jurusan atau spesialis keahlian konseling pendidikan dengan fasilitas belajar yang lengap dan modern. Di negara Indonesia pun jurusan konseling pendidikan yangb biasanya digabung dengan bimbingan dan penyeluhan (BP) masih di selenggarakan pada banyak fakultas keguruan baik negara maupun swasta.[6]
C. Obyek/Cakupan Konseling Pendidikan dan Metode Konseling Pendidikan
1. Cakupan Konseling Pendidikan
Konseling pendidikan pada asasnya adala sebuah disiplin psikologi yang khusus mempelajari, meneliti, dan membahas seluruh tingkah laku manusia yang terlibat dalam proses pendidikan itu meliputi tingkah laku belajar (oleh siswa), tingkah laku mengajar (oleh guru), dan tingkah laku belajar-mengajar (oleh guru dan siswa yang saling berinteraksi).
Pendidikan pada hakikatnya adalah pelayanan yang khusus diperuntukkan bagi siswa. Oleh karena itu, ruang lingkup pokok bahasan konseling pendidikan, selain teori-teori konseling pendidikan sebagai ilmu, juga berbagai aspek konseling para siswa khususnya ketika mereka terlibat dalam proses belajar dan proses belajar-mengajar
Secara garis besar, banyak ahli yang membatasi pokok-pokok bahasan konseling pendidikan menjadi tiga macam.
1. Pokok bahasan mengenai “belajar”, yang meliputi teori-teori, prinsip-prinsip, dan ciri-ciri khas perilaku belajar siswa, dan sebagainya.
2. Pokok bahasan mengenai “proses belajar”, yakni tahapan perbutan dan peristiwa yang terjadi dalam kegiatan belajar siswa.
3. Pokok bahasan mengenai “situasi belajar”, yakni suasana dan keadaaan lingkungan baik bersifat fisik maupun nonfisik yang berhubungan dengan kegiatan belajar siswa.
Khusus mengenai proses belajar-mengajar, dikelompokkan kedalam tujuh bagian diantaranya:
1. Manajemen ruang belajar (kelas) yang sekurang-kurangnya meliputi pengendalian kelas dan penciptaan iklim kelas
2. Metodologi kelas (metode pengajaran)
3. Motivasi siswa peserta kelas
4. Penangan siswa yang berkemampuan luar biasa
5. Penanganan siswa yang berperilaku menyimpang
6. Pengukuran kinerja akademik siswa
7. Pendayagunaan umpan balik dan penindaklanjutan.
Dalam hal penanganan manajemen (proses penggunaan sumber daya untuk mencapai tujuan) yakni manajemen ruang belajar atau kelas, tugas uama guru adalah: 1) melakukan kontrol terhadap seluruh keadaan dan aktivitas kelas; 2) menciptakan iklim ruang belajar sedemikian rupa agar proses belajar mengajar dapat berjalan wajar dan lancar. Pengendalian atau kontrol yang dilakukan guru, menurut tinjauan konseling pendidikan harus senantiasa di orientasikan pada tercapainya disiplin.
2. Metode Konseling Pendidikan
Ada beberapa metode riset yang sudah lazim digunakan dalam konseling, yaitu sebaagai berikut:
a. Metode eksperimen
Metode eksperimen merupakan serangkaian percobaan yang dilakukan eksperimenter di dalam sebuah laborotariun atau ruangan tertentu lainnya. Teknis pelaksanaan nya disesuaikan dengan data yang akan diangkat, misalnya data pendengaran siswa, penglihatan siswa, dan gerak mata siswa ketika sedang membaca. Selain itu dapat pula dipakai untuk mengukur kecepatan bereaksi seorang siswa terhadap stimulus tertentu. Alat utam yang sering dipakai dalam eksperimen pada jurusan konseling pendidikan atau fakultas konseling di universitas-universitas terkemuka adalah komputer dengan berbagai programnya seperti program cognitive psychology test.
b. Metode kuesioner
Metode kuesioner (questionaire) disebut sebagai metode surat-menyurat (mail survey). Karena pelaksanaan penyebaran dan pengembaliannya sering dikirimkan ke dan dari responden melalui jasa pos.
Namun sebelum kuesioner disebarkan atau dikirimkan kepada responden yang sesungguhnya, seorang peneliti konseling pendidikan biasanya melakukan uji coba (try out) tujuannya untuk memastikan apakah pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner itu cukup jelas dan relevan untuk dijawab, dan untuk memperoleh masukan yang mungkin bermamfaat bagi penyempurnaan kuesioner tersebut.
c. Metode studi kasus
Studi kasus (case study) ialah sebuah metode penelitian yang digunakan untuk memperoleh gambaran yang rinci mengenai aspek-aspek psikologis sesorang siswa atau sekelompok siswa tertentu. Metode ini, selain dipakai oleh para peneliti konseling pendidikan, juga sering dipakai oleh peneliti ilmu-ilmu sosial lainnya karena lebih memugkinkan peneliti melakukan investigasi (penyelidikan dengan mencatat fakta) dan penafsiran yang lebih luas dan mendalam.
d. Metode penyelidikan klinis
Metode ini hanya digunakan oleh para ahli psikologis atau psikiater. Dalam metode ini terdapat prosedur diagnosis dan penggolongan penyakit kelainan jiwa serta cara-cara memberi perlakuan pemulihan terhadap kelainan jiwa tersebut. Metode penyelidikan klinis pada umumnya hanya diberikan untuk menyelidiki anak atau siswa yang mengalami penyimpangan psikologis tak terkecuali penyimpangan perilaku. Oleh, karenanya, penggunaan sarana dan cara yang dikaitkan dengan metode tersebut selalu memperhatikan batas-batas kesanggupan siswa.
e. Metode observasi naturalistik
Metode observasi naturalistik adalah sejenis observasi yang dilakukan secara alamiah. Dalam hal ini, peneliti berada di luar objek yang diteliti atau ia tidak menampakkan diri sebagai orang yang sedang melakukan penelitian.
D. Manfaat Konseling Pendidikan
Konseling pendidikan adalah sebuah disiplin ilmu yang memberikan wawasan kepada guru dan calon guru mengenai siapa anak didik dan bagaimana cara belajarnya. Hal-hal lain yang berhubungan dengan aktivitas belajar anak didik, juga dibicarakan didalamnya. Oleh karena itu ada beberapa manfaat yang dapat dipetik setelah mempelajari konseling pendidikan diantaranya:[7]
a. Dapat diperoleh ilmu pengetahuan tentang hakikat siapa anak didik dan bagaimana cara belajarnya, hakikat umum belajar dan syart-syaratnya yang diperlukan agar peristiwa belajar dapat berjalan dengan baik, yang dapat di manfaatkan dalam pengambilan kebijakan pembelajaran.
b. Dapat dperoleh ilmu pengetahuan tentang teori-teori, prinsip-prinsip, dan ciri-ciri khas perilaku belajar individu anak, yang dapat dimanfaatkan dalam memahami masalah belajar anak, strategi belajar-mengajar yang diperlukan pun menjadi lebih addorable dan jauh dominasi guru
c. Dapat dperoleh ilmu pengetahuan bahwa setiap anak berbeda sebagai individu dalam belajar, yang mana dapat dimanfaatkan untuk melakukan pendekatan yang tepat dalam kegiatan belajar-mengajar sesuai potensi individu anak masing-masing
d. Dapat dperoleh ilmu pengetahuan tentang belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, yang dapat dimanfaatkan dengan menyediakan lingkungan belajar yang kondusif lagi kreatif dalam rangka meningkatkan hasil belajar yang kreatif
e. Dapat diperoleh ilmu pengetahuan bahwa pembawaan merupakan potensi anak yang tersedia dan dapat diubah dengan menyediakan lingkungan belajar yang kreatif da dalam kelas.
f. Dapat diperoleh ilmu pengetahuan tentang berbagai masalah yang terkait dengan teori-teori, prinsip-prinsip dan fungsi, serta tehnik motivasi belajar, yang dapat dimanfaatkan dalam rangka pemberian motivasi kepada anak didik yang tidak atau kurang bergairah dalam belajar, sehingga diharapkan anak didik terlibat langsung dalam belajar.
g. Dapat diperoleh ilmu pengetahuan tentang hubungan antara tingkat kematangan dengan kesiapan belajar anak, yang dapat dimanfaatkan oleh guru dengan tidak memaksa kehendak sendiri kepada anak didik untuk dipaksa belajar, padahal anak didik belum siap untuk belajar.
h. Dapat diperoleh ilmu pengetahuan tentang kepastian belajar anak pada stadium umum tertentu, yang dapat dimanfaatkan dalam rangka pengalokasian waktu belajar dan sebagai bahan pertimbangan sampai sejauh mana tingkat kelusan dan kedalaman materi yang diprogramkan dalam krurikulum, sehingga dapat memperkecil tingkat kesulitan belajar anak didik dalam menyerap, mengolah dan menyimpan informasi dalam memori otak.
i. Dapat diperoleh ilmu pengetahuan tentang masalah lupa dan faktor-faktor penyebabnya, yang dapat dimanfaatkan dalam rangka manajemen pembelajaran yang kondusif dengan tujuan informasi baru dapat diserap, diolah, dan disimpan dengan baik dan tidak membuat anak didik melupakan informasi lama yang telah tersimpan dalam memori otak.
j. Dapat diperoleh ilmu pengetahuan tentang masalah transfer belajar, yang dapat dimanfaatkan untuk membuat anak didik untuk mentranfer perolehannya ke dalam situs lain, sehingga penguasaan anak didik terhadap materi blajar betul-betul mantap dan bermakna.
E. Dalil tentang Konseling Pendidikan
Berdasarkan alasan-alasan di atas, nyatalah bahwa pengajaran itu memiliki signifkansi yang vital dalam proses pendidikan. Bahwa karena demikian pentingnya arti pengajaran (taklim) maka Al-Qur’an mengungkapkan istilah ini berkali-kali, antara lain:
1) Dalam Al Baqarah: 31
2) Dalam Al Baqarah: 151
3) Dalam Al Baqarah: 282
4) Dalam Al Kahfi: 65
5) Dalam Al rahman: 2
6) Dalam Al rahman: 4
Sedangkan itu, kata “tarbiyah” (pendidikan) dalam Al-Qur’an hanya terdapat dalam:
1) Surat Bani Israil: 24
2) Surat Asy Syu’ara: 18
Kata “waktu kecil” (shaghiran) dan kata “kanak-kanan” (walidan) dalam ayat-ayat diatas menunjukkan bahwa pendidikan itu terutama merupakan kewajiban keluarga, khususnya ketika anak-anak dalam fase perkembangan awal yakni masa bayi dan kanak-kanak.
Selanjutnya, untuk memperjelas hakikat hubungan antara pendidikan penyusun sajikan sebuah moel. Dalam model ini tampak konsep-konsep ideal (pendidikan) dan operasional (pengajaran) sama-sama berfungsi sebagai alat pencetak sumber daya manusia (SDM) dan sama-sama bertujuan menciptakan SDM yang berkualitas. Bedanya, konsep operasional merupakan penjabaran dari konsep ideal, oleh karenanya pengajaran berhubungan langsung dengan fungsi dan tujuan.[8]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil pemaparan penjelasan di atas dapat kita simpulkan pengertian konseling pendidikan adalah sebuah pengetahuan berdasarkan riset ilmu jiwa (psychology) yang menyediakan serangkaian sumber-sumber untuk membantu anda melaksanakan tugas sebagai seorang guru dalam proses belajar-mengajar secara lebih efektif. Sejarah awalnya konseling pendidikan lebih pesat berkembang di Amerika Serikat, meskipun tanah kelahirannya sendiri di Eropa. Kemudian, dari negara adidaya tersebut menyebar keseluruh benua hingga sampai ke Indonesia.
Di Indonesia terdapat beberapa metode konseling pendidikan yang sering digunakan, seperti metode eksperimen, metode kuesioner, metode studi kasus, metode penyelidikan klinis, dan metode observasi naturalistik. Dengan berjalannya kegiatan konseling dalam ruang pendidikan tentu membuahkan manfaat yang dapat dirasakan.
B. Saran
Demikian makalah dengan berjudul “Ruang Lingkup Konseling Pendidikan” yang dapat kami susun. Kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Kami juga berharap terhadap segala kritik dan saran pembaca yang membangun untuk makalah kami sekarang dan selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Djamarah, Syaiful Bahri. 2011. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Sukardi, Dewa Ketut dan Nila Kusmawati. 2008. Proses Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
Syah, Muhibbin. 2008. Psikologi Pendidikan dengan PENDEKATAN BARU. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Yusuf Syamsu L.N dan A. Juntika Nurihsan. 2005. Landasan Bimbingan & Konseling. Bandung: PT Remaja Rosadakarya.
[1] Dewa Ketut Sukardi, Nila Kusmawati, Proses Bimbingan dan Konseling di Sekolah, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), hal; 4
[2] Syamsu Yusuf L.N, A. Juntika Nurihsan, Landasan Bimbingan & Konseling, (Bandung: PT Remaja Rosadakarya, 2005), h; 7
[3] Muhibbin Syah, M.Ed, Psikologi Pendidikan dengan PENDEKATAN BARU, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008), h; 10
[4] Ibid., hal; 12
[5] Ibid., hal; 13
[6] Ibid., hal; 22-24
[7] Drs. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag., Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2011), h; 10-11
[8] Muhibbin Syah, M.Ed, Psikologi Pendidikan dengan PENDEKATAN BARU, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008), h; 37-38

0 Response to "Konseling Pendidikan"
Posting Komentar